Senin, 13 Oktober 2014

Euforia Gunung dan Laut

Malam minggu kemarin saya baru saja mengalong bersama seorang teman di pantai Kuta. Waktu itu kami sedang bercerita tentang entah sambil santap subuh di sebuah restoran cepat saji.

Malam sedang cantik-cantiknya. Di langit, bulan bulat sedikit bopeng sisa purnama empat hari sebelumnya masih menggantung. Gemerlap bintang membuat aksen langit malam yang sudah indah itu bertambah indah. Kenyang dan mulai terserang kantuk, kami melanjutkan obrolan sambil berjalan menyusuri garis pantai sebelum kemudian rebah di dipan kecil yang ada di pinggir pantai. Kami masih membincangkan hal yang sama, beberapa kali apa yang ada di kepala saya tetiba menyeruak lewat bibir teman saya. Saya jadi curiga kalau-kalau teman saya bisa membaca isi kepala saya, atau mungkin ada campur tangan angin malam disana, yang menelusup lewat telinga, mengambil isi kepala saya lalu membawanya ke kepala teman saya.

Waktu itu sebentar lagi pukul 5 pagi, dingin dan nyamuk sejurus menyerang seolah memerintah kami untuk segera pergi menyambut kedatangan sang surya. Karena kami adalah golongan orang penurut, maka tancap gas lah kami menuju pantai matahari terbit.

Langit sudah kemerahan ketika kami sampai di Sanur. Cericit burung menyambut kami dengan riang. Sudah lumayan ramai, dua bale bengong yang ada di pinggir pantai sudah diduduki segerombolan orang, di sepanjang paping yang dipasang di atas penahan ombak juga sudah berjejer orang-orang yang duduk menghadap laut. Nun jauh disana beberapa nelayan tampak sudah memulai aktivitas, beberapa ada yang sedang menyisir karang, beberapa lagi tampak sedang menarik jaring yang mungkin sudah dipasang sejak semalam.

Kami berjalan menuju bibir pantai, menuruni tanggul penahan ombak lalu berjalan menerobos air setinggi mata kaki (lebih sedikit) menuju arah ombak yang berada cukup jauh ke dalam. Sambil berjalan teman saya mengenalkan biota-biota laut yang kiranya merupakan santapan sehari-harinya. Ada beberapa jenis karang yang ditunjukkannya (sayang saya lupa sama sekali nama-namanya), ada juga rumput laut yang katanya sering disalah sebut menjadi alang-alang laut oleh sebagian orang. Dia juga mengajarkan membaca pola ombak. Teman saya yang satu ini memang lain dari yang lain.

Gunung Agung tampak menjulang di depan kami. Teman saya berjalan semakin jauh mendekati ombak. Saya mengantuk, perut juga sedang ngerodok. Saya memilih duduk di sembarang karang yang ada. Dengan posisi nyingkrung, kepala saya tempelkan di lutut yang saya lipat di depan dada. Sebentar-sebentar mata saya terpejam, sesekali terlintas beberapa visual tentang pendakian gunung Agung pertama yang saya lakukan. Nah, dari situlah cerita ini bermula.

Sepulang ke rumah Tabanan, hanya ada satu kata di kepala saya, tidur. Sungguh lelah. Saya langsung menuju kamar, merebahkan badan. Beberapa kali saya terbangun. Teringat kewajiban mengajar esok hari, iseng saya membuka laptop mencoba untuk menyiapkan bahan ajar. Beberapa kali itu juga saya gagal lalu tertidur lagi. Malam tiba, lelah belum beranjak. Apalagi yang lebih pantas selain melanjutkan tidur ketika lelah sudah bertemu malam?.

Senin tiba, waktu untuk mulai beraktivitas di kampus. Visual tentang perjalanan kemarin masih lekat di angan. Visual tentang gunung Agung yang tinggi menjulang ketika kami berjalan menuju arah ombak merupakan salah satunya.

Saya membuka-buka kembali media penyimpanan di sela jam mengajar untuk melihat seandainya foto-foto pendakian gunung Agung pertama saya masih ada. Foto-foto perjalanan tahun 2010 itu ternyata masih ada walaupun bukan file aslinya (file yang sudah terkompres).

Waktu itu saya baru saja lulus kuliah, ada jeda waktu mungkin sebulan sebelum wisuda. Saya hendak menghabiskan waktu di rumah Tabanan. Langsung saja Yogi menawari saya untuk melakukan dua pendakian beruntun dengan jeda waktu seminggu. Gunung Batukaru pada tanggal 7 Agustus, kemudian gunung Agung tanggal 14-15 Agustus. Belakangan seri pendakian beruntun ini bertambah sebulan setelah saya diwisuda, pendakian Rinjani pada tanggal 10-13 September menjadi penutup (semacam) perayaan atas kelulusan saya.

Melihat kembali foto-foto perjalanan itu menyemikan kembali euforia, perasaan nyaman, kegembiraan meluap-luap yang sempat hadir waktu itu.

Ada banyak detail perjalanan yang terlintas ketika melihat-lihat kembali foto-foto perjalanan yang terjadi 4 tahun yang silam itu. Kami yang berangkat berempat dari rumah Tabanan pukul 10 malam, Haris yang melihat sesosok orang ketika kami bersembahyang tengah malam di Pura Penataran Agung (padahal tidak satupun dari saya, Yogi dan Bawa melihat ada orang di sekitar), kami yang kedinginan ketika bermalam di bale-bale yang ada di areal jaba Pura Pengubengan, suasana mistis berada di tengah hutan cemara yang berselimut kabut, perjalanan menggapai dan menuruni puncak Agung dengan pemandangan begitu epic sampai perjalanan menurun setelah tebing Boyke yang kami lakukan dengan (antara) berlari, berlompatan, juga sesekali berperosotan.

Saya tidak hendak bercerita lebih lanjut tentang perjalanan ini, cukuplah foto-foto di laman flickr ini yang membantu menceritakannya. Sila mampir jika berkenan :)

Senin, 15 September 2014

Let's Get Lost: Pulau Menjangan


Dalam rangka menolak lupa dan berhubung momennya pas, saya baru saja mengunggah foto-foto perjalanan ke Pulau Menjangan yang sebenarnya (menurut keterangan yang ada di file foto) sudah terjadi tahun 2011 yang lalu di laman flickr.

Foto-foto perjalanan ini sebelumnya pernah saya upload di laman multiply yang sayang sekarang sudah almarhum. Cerita perjalanannya juga. Beruntung sebelum multiply tutup, saya sempat memindahkan cerita-cerita perjalanan yang ada di sana ke laman lovelydayofmylife ini. Sayang waktu itu, multiply tidak menyediakan layanan untuk memindahkan file-file gambar yang ada di laman photos nya (atau mungkin saya yang tidak tahu).

Yang saya maksud dengan "momennya pas" seperti yang terdapat pada paragraf pertama diatas itu begini.

Dua hari yang lalu saya baru saja melakukan perjalanan ke pulau Menjangan bersama rombongan mahasiswa STIKI (mungkin lebih tepatnya saya dan lima orang teman naik 2 kendaraan terpisah kemudian para mahasiswa naik bus). Dari Tabanan kami melalui jalur Pupuan. Hampir saja kejadian 3 tahun yang lalu terulang kembali, teman saya kebablasan lurus setelah pasar Pupuan, beruntung tidak terlalu jauh dia tersadar. Jadilah saya batal tersesat dalam perjalanan ke Pulau Menjangan untuk kedua kalinya.

Kami mampir sembahyang di Pura Pulaki dulu sebelum ke Pulau Menjangan. Ke Pulaki kurang lengkap rasanya kalau tidak membawa oleh-oleh anggur. Tentu murah adalah salah satu penyebabnya. Tidak mungkin rasanya bisa mendapat anggur hitam yang tidak memabukkan itu dengan harga 10.000 per kilogram di Tabanan. Jadilah beban di mobil bli Martana yang saya tumpangi bersama Wawan bertambah 7 Kg sepulang dari pulaki.

Dari Pulaki kami menuju barat, melewati Pemuteran. Melihat tulisan "dive" bertebaran di kiri kanan jalan langsung menghadirkan nostalgi akan seorang teman yang begitu mencintai laut dan sempat beberapakali melakukan penelitian keanekaragaman hayati di Pemuteran. Saya belum pernah mampir di Pemuteran, cuman lewat saja. Niatnya sih suatu saat saya mau nebeng temen saya itu seandainya dia ada penelitian di Pemuteran lagi. Tapi sayang belum sempat saya menyampaikan niatan itu, si teman sebentar lagi akan meninggalkan Bali untuk melanjutkan sekolah demi menggapai cita menjadi peneliti yang lebih baik lagi.

Kembali ke topik cerita, kami sampai di Pelabuhan Lalang setelah kira-kira setengah jam perjalanan dari Pura Pulaki. Perjalanan selanjutnya menyeberang dari pelabuhan ke Pulau Menjangan dengan perahu boat, sembahyang di delapan pura yang ada lalu (tentu saja) kembali ke pelabuhan Lalang. Matahari tampak sudah bersiap menuju peraduannya sewaktu kami sedang terombang ambing di perahu dalam perjalanan kembali ke pelabuhan. Semburat merah mewarnai langit dengan latar (kalau tidak salah) gunung Raung, Merapi (Ijen) dan Pendil di kejauhan. Sekitar 30 menit perjalanan, kami sampai di pelabuhan. Sudah gelap. Perjalanan lalu ditutup dengan berkendara malam di antara bus dan truk di jalur Denpasar Gilimanuk.



O ya, laman flickr yang saya maksud pada paragraf pertama itu bisa dilihat di sini.

Minggu, 03 Agustus 2014

Desa Trunyan via Pura Ulundanu Songan

Kalau kamu kebetulan sedang berada di Bali dan menyukai berpeluh di tengah udara pegunungan, saya merekomendasikan sebuah jalur jalan-jalan sedikit kurang umum yang ada di sekitar Gunung Batur. Jalur ini akan dimulai dari Pura Ulundanu Songan, naik menuju Desa Alengkong kemudian menuju penampungan air tertinggi di desa. Dari sana perjalanan akan dilanjutkan dengan menuruni bukit untuk kemudian naik turun (kalau tidak salah) tiga bukit sampai akhir perjalanan di Desa Trunyan.

Jika ingin mengunjungi kuburan adat masyarakat Trunyan yang termasyur itu, dari desa Trunyan kamu bisa menyewa perahu untuk mengantar ke sana. Saya juga baru tahu kalau kuburan adat masyarakat Trunyan tidak berada di wilayah desa, tapi di daratan yang berada di balik bukit yang ada di sebelah utara desa. Harus menyeberang dengan perahu untuk sampai di sana. Ongkosnya cukup mahal untuk ukuran saya, 450 ribu rupiah. Sepulang dari kuburan, (jika ketika berangkat membawa kendaraan sendiri dan diparkir di Desa Songan) kamu bisa meminta pada nakhoda perahu untuk mengantar kembali ke Desa Songan dengan menyeberangi danau, tentu dengan merogoh kocek lebih dalam lagi. Saya tidak tahu persis harga untuk mengunjungi kuburan adat Trunyan kemudian menyeberang danau untuk mencapai desa Songan. Sewaktu berkunjung kesana saya memilih untuk tidak ke kuburan dan menuju desa Songan dengan moda transportasi yang lebih terjangkau, menyewa mobil. Ongkosnya masih tergolong mahal 250 ribu rupiah.

Jalan-jalan di sekitar danau Batur kurang lengkap rasanya jika belum mencicipi berbagai olahan mujair asli danau dan berendam air panas. Untuk tempat makan, saya merekomendasikan sebuah warung yang berada mungkin hanya 50 meter dari tempat pemandian air panas entah apa namanya yang ada di pinggir jalan daerah Toya Bungkah (warung makan letaknya di kiri jalan kalau dari arah Songan). Disana ada berbagai olahan mujair, mulai dari goreng, bakar sampai soup. Kalau pemandian air panas, sependek pengetahuan saya, ada tiga, yang sangat murah, murah dan mahal. Untuk info lebih detail coba bertanya pada penduduk sekitar, itung-itung sekalian berkenalan dengan masyarakat Toya Bungkah yang ramah-ramah itu.

Pada gambar peta dibawah dapat dilihat gambaran kasar jalur perjalanannya. Untuk pemandangan yang akan ditemui, sila lanjut membaca paragraf ini sampai kalimat terakhir kemudian pejamkan mata lalu berimajinasi sesuka hati. Clue pemandangan yang akan ditemui: Kalian akan berjalan di punggungan bukit yang berada di atas danau dengan latar depan tiga gunung.



Post-scriptum:
Kalau sedang malas berimaji, mungkin berkunjung ke laman flickr ini bisa memberi sedikit gambaran tentang jalur yang akan dilalui.

Selasa, 08 April 2014

Musim Kawin

Tanggal 4 April tahun 2014 merupakan hari baik untuk melakukan upacara pernikahan di Bali. Beberapa teman juga ada yang melangsungkan pernikahan di hari tersebut. Berhubung saya sedang agak luang di Jogja dan kebetulan sudah cukup lama berniat untuk membawa harta karun selama di Jogja pulang ke Bali, jadilah saya memutuskan pulang beberapa hari untuk menghadiri pernikahan teman sekaligus membawa dan menata harta karun yang saya kumpulkan selama di Jogja di rumah.

Rombongan di nikahan Gatep


 “Engken, enggal kal e ne?”

“Bagaimana, bakal segera nyusul kan ya?” Begitu kira-kira kutipan bahasa Bali di atas kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Pertanyaan itu biasa terlontar ketika seorang lajang yang sudah cukup umur menghadiri acara pernikahan di Bali. Malam itu saya mendapat pertanyaan wajib tersebut dari teman saya yang sedang berbahagia, Gatep.

“Ne, ngantes Purna siap malu.”

“Nunggu si Purna siap dulu.” Goda saya pada Purna yang malam itu saya ajak kondangan menjawab pertanyaan dari Gatep.

Eh malah akhirnya saya yang kena batunya.

“Kamu nake enggalan lulus malu.”

“Makanya kamu buruan lulus.” Begitu goda Purna balik.

Malam itu saya kondangan ke tempat tiga orang teman seangkatan sewaktu SMA dulu. Sebelum ke tempat Gatep, saya ke tempat Eka Desyanti dan Charli. Sebenarnya masih ada satu teman lagi yang melangsungkan pernikahan malam itu, TJ. Tapi karena waktu tidak memungkinkan jadilah saya dan rombongan tidak sempat kondangan kesana.

Di minggu pertama bulan April ini ada enam teman seangkatan sewaktu SMA yang melangsungkan pernikahan. Umur kami yang sudah mendekati kepala tiga membuat hal itu menjadi sebuah kewajaran. Bahkan bagi keluarga besar saya di rumah Tabanan hal tersebut mungkin terkesan kurang wajar. Bayangkan saja, sampai dua tahun yang lalu saudara-saudara lain yang seumuran bahkan sampai yang lebih kecil 5 tahun sudah menikah semua. Jadilah saya yang masih berjuang menyelesaikan sekolah ini selalu mendapat bulan-bulanan pertanyaan “Enggal kal e ne?” setiap ada kesempatan pulang ke rumah. Paling-paling saya hanya menjawab dengan cengengesan “Ngantes lulus malu.” “Tunggu lulus dulu.”

Rombongan kondangan malam itu berjumlah lima. Di tempat Gatep kami bertemu 5 teman lainnya. Dari sepuluh orang baru dua yang sudah menikah. Jadi sebenarnya anggota klub teman seangkatan sewaktu SMA yang belum menikah itu masih cukup banyak. Ketika kondangan ke tempat Cepot malam sebelumnya juga, dari tujuh orang anggota rombongan yang berangkat, malah baru satu yang sudah menjadi Bapak. Hanya ketika kondangan ke tempat Mulyadi pada hari minggu yang sedikit terbalik, dari empat orang yang saya jumpai hanya saya seorang yang masih melajang.

Menghadiri pernikahan teman seangkatan sewaktu SMA selalu penuh haha hihi. Salah satu bahan haha hihinya apalagi kalau bukan mengenang kembali kekonyolan-kekonyolan yang pernah dilakukan sewaktu muda dulu. Bagi saya Mulyadi adalah salah satu orang paling konyol ketika SMA. Ada saja tingkah nyeleneh yang dilakukannya. Pernah pada suatu ketika dia bersama beberapa orang teman membawa kardus ke kelas-kelas guna meminta sumbangan untuk membeli arak. Tidak dinyana ada adik kelas yang melaporkan tindakan itu ke guru. Jadilah dilakukan investigasi pelaku gerakan "meminta sumbangan" dengan membawa denah kelas III IPS 2 (kelas yang dianggap paling bandel waktu itu) ke kelas si pelapor. Singkat cerita akhirnya beberapa pelaku dikenali dan dikenakan wajib lapor, datang ke BK setiap hari ketika jam istirahat pertama selama sebulan. Waktu itu sebenarnya BK sedikit kecele karena sang inisiator gerakan, Mulyadi, terbebas dari hukuman. Tahu penyebabnya? Foto yang dia pasang di denah kelas adalah foto sewaktu TK dulu. Jadilah tidak ada adik kelas yang mengenali wajahnya. Ah ada-ada saja.

Ada lagi kekonyolan lainnya, yang membuat kita terpingkal malam itu. Pernah suatu waktu dalam kelas Kewarganegaraan, Mulyadi hendak kentut. Waktu itu dia akan mengerjai Wira yang duduk di depannya. Dia pun menyampaikan pada Naya teman sebangkunya untuk menunjuk Wira ketika dia kentut nanti. Ajakan itu menyebar sampai deret bangku paling ujung. Kemudian kentut lah Mulyadi dengan nyaring, "Puuuuttt". Sontak semua teman menuding-nuding Wira sambil menyebut-nyebut namanya, "Wira, Wira, Wira, Wira". Wira jadi gelagapan, "Bukan saya Pak, Mulyadi" belanya dengan tampang tidak bersalah. Pak Guru hanya bisa tersenyum. Mul, Mul, ada-ada saja.

* * *

“Kadi nganten wae?”

“Kok kamu menikah?” begitu canda saya pada Gatep ketika kami sedang makan.

Dia hanya nyengir sambil kemudian mengunyah makanannya sebelum kemudian menjawab.

“Pedalem nyen panake, eh iraga ane pedalem. Nyan panake sedeng kuliah gelah sube sing nyidang ngasilan pis keweh nyan.”

“Nanti kasian anaknya, eh kita yang kasian. Kalau nanti anak kita masih kuliah sementara kita sudah tidak mampu menghasilkan uang, bisa susah nanti.”

Masuk akal juga kalau dipikir-pikir. Malam itu sebenarnya saya ingin menjawab pertanyaan “engken, enggal kal e ne?” dengan menyodorkan undangan pernikahan. Tapi sementara keadaan belum memungkinkan biar itu menjadi sebatas angan dulu.

Saya jadi teringat becandaan tentang waktu menikah yang dulu sempat saya bincangkan dengan beberapa teman. Waktu itu dengan spontan saya menjawab akan menikah pada umur 30. Eh ini malah kayanya hampir kejadian. Ketika teman-teman yang lain sudah menikah bahkan ada yang sudah memiliki dua orang anak, saya malah masih berkutat dengan diri sendiri dan kuliah. Ucapan memang benar-benar dapat menjadi doa, sebaiknya pikir-pikir dulu sebelum diucapkan. Tapi kalau doa saya yang dulu itu hendak dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, berarti seharusnya saya akan menikah tahun depan. Ah, semoga saja.

Akhir kata, Selamat menempuh hidup baru untuk Cepot, Eka Desyanti, Gatep, Mulyadi, Charli, TJ beserta pasangan. Rukun dan berbahagia selalu.

Rombongan di nikahan Eka Desyanti

Selasa, 11 Maret 2014

On Love

The best love is the kind that awakens the soul and makes us reach for more, that plants a fire in our hearts and brings peace to our minds.


- Nicholas Sparks

Rabu, 05 Maret 2014

Love What You Do

Whatever it is you want to change about yourself, now is the time to change it.
- Meg Jay

Berada diujung umur kepala 2 dan masih merasa belum melangkah ke arah yang tepat itu sungguh tidak menyenangkan. Mengetahui hendak melangkah kemana saja ternyata tidak cukup untuk mampu membuat kita berada di jalur yang dikehendaki.

Rasa-rasanya umur 20an merupakan umur dimana kita akan berjumpa berbagai hal baru yang mungkin membuat kita tergoda untuk melakukan eksplorasi. Eksplorasi, selama tidak mengganggu "hendak menjadi apa kita nanti" rasanya sah-sah saja. Tapi idealnya, eksplorasi pada hal-hal yang akan mendefinisikan kita di masa yang akan datang mendapatkan porsi yang lebih banyak jika dibandingkan dengan eksplorasi "entah apa" yang sekiranya akan mengantar kita ke antah berantah. Tapi kita (mungkin lebih tepatnya saya) seringkali terlena pada nikmat sementara yang diberikan eksplorasi "entah apa", kemudian tersesatlah saya di antah berantah.

Ada sebuah presentasi menarik, "Why 30 is not the new 20" yang disampaikan Meg Jay pada acara TED Talk. Rasanya bolehlah presentasi tersebut dijadikan sebagai pengingat untuk mereka yang berumur 20an, betapa apa yang kita kerjakan pada umur-umur tersebut akan sangat berpengaruh terhadap akan menjadi apa diri kita nanti.

Ada tiga hal yang menurut Meg Jay perlu didengar oleh mereka yang berumur 20an. Berikut saya kutipkan salah satunya, mengenai pentingnya mengerjakan hal yang akan lebih mendefinisikan diri kita di masa yang akan datang.

First, I told Emma to forget about having an identity crisis and get some identity capital. By get identity capital, I mean do something that adds value to who you are. Do something that's an investment in who you might want to be next. I didn't know the future of Emma's career, and no one knows the future of work, but I do know this: Identity capital begets identity capital. So now is the time for that cross-country job, that internship, that startup you want to try. I'm not discounting twentysomething exploration here, but I am discounting exploration that's not supposed to count, which, by the way, is not exploration. That's procrastination. I told Emma to explore work and make it count.

Berikut saya rangkumkan pesan Jay dari kutipan diatas.

1. Lupakan tentang krisis identitas dan kejarlah modal identitas, yaitu dengan melakukan sesuatu yang akan meningkatkan nilai dirimu, mengerjakan sesuatu yang dapat menjadi investasi untuk akan menjadi apa dirimu nanti.

2. Memang kita tidak akan pernah tahu tentang masa depan karir juga masa depan kerja seseorang, tapi ada satu hal yang begitu diyakini Jay, bahwa modal identitas akan menurunkan modal identitas lainnya. Jadi sudah waktunya untuk mencoba pekerjaan antar negara, magang atau membangun startup yang dikehendaki.

3. Bukannya Jay tidak menghitung eksplorasi yang dilakukan oleh anak 20an disini, tapi dia hanya tidak menghitung eksplorasi yang tidak perlu dihitung, yang mana bukan merupakan sebuah eksplorasi, tapi sebuah penundaan. Lakukanlah eksplorasi kerja dan buat itu terhitung.

Hal paling awal yang perlu diperhatikan sebelum bisa menerapkan pesan Jay diatas tentu menentukan "identitas apa yang hendak kita pilih", mau jadi apa diri kita nanti. Selanjutnya baru apa yang dinamakan modal identitas dapat dikejar.

Memilih identitas itu gampang-gampang susah. Pada sebuah artikel berjudul "Lentera Jiwa", Andy Noya menyampaikan betapa beruntungnya mereka yang saat ini bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup.

Sayangnya, menemukan apa yang dinamakan passion, hasrat hati, lentera jiwa tidak semudah yang diomongkan. Ikazain pada artikelnya "About Finding Passion" menyampaikan penyebab hal tersebut adalah sudah terbiasanya kita dituntut untuk mencapai “yang terbaik” dari kecil. Masuklah kelas terbaik, sekolah unggulan, jadilah ranking 5 besar, lolos jurusan favorit, tembus universitas negeri terbaik, dll. Kebiasaan memilih "yang terbaik" nantinya akan menemukan kendala ketika kita sudah memasuki dunia kerja. "Yang terbaik" itu yang mana? Yang ngasi gaji gede? Lalu bagaimana jika lingkungan kerjanya tidak nyaman? Apa kita harus berbalik arah lalu memilih jalan yang membuat kita merasa nyaman, seperti Andy Noya dan orang-orang yang diceritakan dalam artikelnya? Mungkin selanjutnya akan muncul pertanyaan, apa kita akan seberuntung Andy Noya, Bara Patirajawane, Wahyu Aditya, Gede Prama ketika memutuskan untuk berbalik arah?

Nah untuk kalian (termasuk saya) yang belum memiliki cukup keberanian untuk berbalik arah memilih jalur yang (kalau boleh dikatakan) sesuai dengan hasrat hati, pada artikelnya, Ikazain menyarankan rumus sederhana untuk tetap berbahagia dengan jalan yang sudah terlanjur kita pilih.

Tanamkan attitude "Love What You Do" pada diri. Jalani apa yang sudah terlanjur dipilih, tekuni dan cintai dari dalam hati, lalu berbahagialah.

Rabu, 12 Februari 2014

Memaknai Perjalanan

Ada perbincangan cukup hangat di sub forum OANC kaskus yang baru saya temukan. Perbincangan tentang alasan melakukan sebuah perjalanan mendaki gunung. Perbincangan dimulai oleh dede.muchsaw yang memposting ulang tulisan "Mendaki Gunung, Hobby yang Sia-sia" yang didapat dari laman kompasiana Tengku Bintang.

Tulisan Tengku Bintang sebenarnya sudah cukup lama diposting di laman kompasiana, tanggal 22 April 2012, sehari setelah meninggalnya Wamen ESDM Alm. Widjojono S dalam pendakian yang dilakukannya di gunung Tambora. Nampaknya Tengku Bintang sedang begitu kesal akan apa yang dinamakan dengan hobby mendaki gunung waktu itu, nada kesal tersebar rata di sepanjang tulisannya.

Berikut saya kutipkan potongan tulisan dari Tengku Bintang.
Mendaki gunung termasuk hobby yang merepotkan, baik untuk diri-sendiri maupun orang lain. Tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh. Memang kenapa kalau sudah menginjakkan kaki di puncak gunung? Kilimanjaro atau Himalaya sekalipun? Apa ada gunanya? Paling-paling menancapkan bendera mini tanpa tujuan yang jelas, lalu berphoto-photo, begitu turun banyak cerita. Soal situasi puncak gunung sampai kandungan bahan tambang di atas sana, tak kurang-kurang pesawat terbang atau satelit bisa menyajikan informasi, sampai potret lobang semut bisa kelihatan. Hasil kerja pendaki gunung tak pernah digunakan secara signifikan sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan.

Beribu-ribu pendaki gunung di seluruh dunia menemui ajal di lereng gunung demi memuaskan nafsu petualangannya. Tersesat, terjatuh, digigit ular, dicakar beruang, dan lain sebagainya. Tulang belulang mereka berserakan di jurang-jurang hingga kini (mungkin). Masih beruntung Wamen ESDM, karena jabatannya yang tinggi semua pihak segera memberi pertolongan, tanpa memperhitungkan tenaga dan biayanya. Pesawat dan mobil ambulan segera meluncur. Semua pejabat negara, termasuk Presiden SBY menyampaikan belasungkawa yang mendalam.

Sesungguhnya, itu pekerjaan yang sia-sia.

Beberapa waktu yang lalu kegelisahan serupa sempat melanda saya. Saya mulai mempertanyakan pendakian yang begitu sering saya lakukan pada tahun 2010 sampai 2012 yang lalu. "Untuk apa? Mengapa saya melakukannya?" begitu pertanyaan yang sering muncul di kepala. Beberapa teman sependakian juga sempat saya tanyakan perihal tersebut. Maya dan Yogi merupakan dua diantaranya.

Maya adalah sosok wanita begitu perkasa dan penuh dedikasi terhadap hobinya yang satu ini. Pernah suatu kali dia meninggalkan kewajibannya untuk menyelesaikan revisi proposal tesis untuk melakukan serangkaian perjalanan yang membikin saya gigit jari. Ke Flores, Bali, Bromo, kemudian diakhiri dengan mendaki Semeru. Waktu itu, kalau tidak salah ketika kami sedang makan di warung nasi uduk yang ada di selatan Bank Mandiri UGM, iseng saya bertanya padanya

"Apa alasan kamu begitu menggila dalam hal pendakian Gunung May?" begitu kurang lebih pertanyaan saya.

"Masalah passion Te, seperti ada yang selalu memanggil setiap ada kesempatan untuk melakukan sebuah pendakian" begitu kira-kira jawaban Maya waktu itu.

Pertanyaan sedikit berbeda sempat saya tanyakan pada teman saya Yogi.

"Apa tidak bosan Di melakukan pendakian gunung, polanya kan sama, segitu-segitu saja" tanya saya pada suatu ketika.

"Selalu ada yang berbeda Te dalam setiap pendakian, terutama gunung-gunung yang belum pernah dikunjungi. Selalu ada tantangan baru, mencari informasi tentang kondisi jalur pendakian, ada tidaknya sumber air, menentukan berapa banyak perbekalan yang akan dibawa, juga angkutan yang bisa digunakan untuk bisa mencapai kaki gunung." begitu jawabnya.

* * *

Saya mulai mengenal kegiatan mendaki gunung ketika duduk di bangku SMA. Seorang sahabat yang kini telah berpulang, Almarhum Kayun yang mengenalkannya pada saya. Waktu itu alasan saya melakukan pendakian cuma satu, "gradag-grudug" bersama teman-teman. Begitu banyak kesenangan waktu itu, cekikikan di tengah gigil sambil menunggu matahari terbit, mentertawakan nafas kami yang baru beberapa menit perjalanan sudah ngos-ngosan, pernah juga suatu ketika saya dan seorang teman melakukan lomba lari untuk mendaki sebuah bukit tak berpenghuni, kemudian menamai bukit itu sekehendak hati pemenang lomba, seolah-olah si pemenanglah yang pertama kali menginjakkan kaki di puncak bukit itu. Tanpa beban rasanya, mungkin hanya tas punggung yang kami gendong yang menjadi beban waktu itu.

Ada sedikit perbedaan kadar kesenangan antara pendakian yang saya lakukan sewaktu SMA dengan beberapa pendakian yang begitu sering saya lakukan beberapa tahun terakhir. Pendakian sewaktu SMA dulu memiliki kadar kesenangan yang sedikit lebih banyak. Rasanya perbedaan jumlah beban yang menggantung di kepala lah yang menjadi penyebabnya. Dulu, belum ada itu yang namanya beban menyelesaikan tesis juga beban memikirkan Bapak yang sedang cemas akan pendakian yang saya lakukan.

Sewaktu SMA dulu hanya satu gunung yang begitu sering saya daki, gunung Batur. Jarak kaki gunung Batur dari Tabanan mungkin sekitar 2,5 jam perjalanan. Waktu itu saya dan teman-teman biasanya memulai perjalanan menuju Batur pukul 11 malam. Tidak pernah Bapak mengkhawatirkan perjalanan yang saya lakukan, malah saya selalu diantar sampai depan rumah dengan penuh suka cita, disangu agak banyak pula, jadi tidak pernah terlintas di kepala kalau Bapak sedang menunggu kedatangan saya dengan cemas. Entah kapan tepatnya perubahan cara pandang Bapak terjadi. Mungkin ini ada kaitannya dengan kuliah saya yang sedikit terbengkalai. Bisa jadi Bapak merasa kegiatan mendaki gunung yang sering saya lakukan memiliki andil dalam membengkalaikan kuliah saya, tapi entahlah. Nanti coba kita lihat jawaban dari hipotesa ini setelah saya resmi dinyatakan lulus ujian tesis.

* * *

Pada cerita perjalanan mendaki Rinjani "Pos Cemara Pelangi" dan "Because It's There", saya sempat menuliskan pembenaran yang belakangan baru saya temukan setelah perjalanan berat selama empat hari tiga malam yang saya lakukan waktu itu.

Berikut saya kutipkan pembenaran yang sebelumnya pernah saya tuliskan pada kedua cerita perjalanan tersebut.
Saya kembali teringat akan perjalanan yang pernah hinggap di mimpi waktu itu. Kali ini saya belum cukup beruntung untuk bisa menikmati sunrise di Plawangan Senaru. Mungkin lain kali. Sebuah pendakian akhirnya bukan hanya sekedar pemenuhan hasrat untuk menikmati keindahan bagi saya. Tapi lebih dari itu, ada pembelajaran tentang kerjasama juga meredam sifat 'aku' disana. Fisik boleh dilatih dengan melakukan olah fisik. Tapi bagaimana dengan mental? Bagi saya salah satu caranya dengan memberi dia pilihan tersulit, sehingga terpaksa harus melakukan hal yang tidak biasa dilakukan. Coba saja berikan kondisi seperti ketika kami sedang berdebat di tempat datar sebelum pos cemara lima pada mereka yang tidak biasa mengalah. Apa mereka akan tetap ngotot untuk bermalam di tempat datar sebelum cemara lima seorang diri, tanpa tenda juga perbekalan seadanya?. Meski ada unsur terpaksa, tapi toh juga kita jadi tetap belajar untuk mengalah. Seperti kata pepatah, alah bisa karena biasa. Lakukan itu berulang-ulang maka nanti juga akan jadi kebiasaan, akan menjadi bagian dari karaktermu, watakmu.
Tentu saya tidak seambisius Mallory dalam hal penaklukan gunung. Cukuplah rasa nyaman dan kepuasan akan penaklukan diri sendiri menjadi alasan saya. Sensasi yang hampir setahun sudah tidak saya kejar lagi di gunung. Saya mengejarnya ditengah riuh bulaksumur sekarang. Mencoba menaklukkan rasa malas dan mengarahkan fokus pada tugas yang membentang di depan mata. Mengajar dan menyelesaikan tesis.

Melatih mental, mungkin itu benang merah dari dua kutipan diatas. Belajar bekerja sama, meredam sifat aku, juga menaklukkan rasa malas. Kalimat yang mustahil rasanya terucap seandainya saya sudah berhenti melakukan pendakian selepas SMA.

Belakangan ketika membaca kembali kedua kutipan diatas lalu membandingkannya dengan kondisi sekarang, rasanya apa yang saya sampaikan diatas jadi terasa sedikit muluk. Bagaimana tidak, wong sampai sekarang—jangankan untuk hal-hal njlimet seperti mengerjakan tesis—untuk rajin bersih-bersih kamar, mencuci pakaian juga mencuci wajah sebelum tidur saja saya masih susah.  

Tapi dulu, kira-kira enam bulan pasca pendakian Rinjani—ini beneran terjadi, tidak muluk-muluk—saya merasa ada perubahan cukup berarti pada diri saya. Saya jadi jarang menunda pekerjaan. Kalimat setan “ah, masih bisa dikerjakan nanti” langsung berganti kalimat tuhan “kalau bisa dikerjakan sekarang, kenapa harus nanti.” Kamar saya jadi lebih sering terlihat rapi, cucian juga tidak pernah menggunung, wajah pun jadi terlihat lebih mulus akibat jerawat yang mulai malas hinggap semenjak saya mulai menabukan perihal tidak mencuci muka sebelum tidur.

Entah perubahan itu ada kaitannya dengan perjalanan ke Rinjani. Yang jelas kira-kira setelah memasuki bulan ke tujuh pasca pendakian Rinjani kalimat setan “ah, masih bisa dikerjakan nanti” kembali menjadi tuan.

* * *

Ada dua respon menarik terhadap tulisan Tengku Bintang yang saya temukan di Kaskus, oleh agan goposmile dan ipanaipan. Satunya agak serius, satunya lagi agak ngocol, khas Kaskus.

Begini pendapat agan goposmile.
Ane suka mendaki gunung bukan tanpa sebab.
Dan banyak keuntungannya ketika mendaki gunung:
1. Ane belajar disiplin terhadap waktu, belajar memulai perencanaan dan persiapan dengan matang.
2. Memulai segala aktifitas pendakian bersama doa yang mengiringi. Spontanitas ketika nafas terengah-engah seketika doa terucap gan. Ane jadi merasa dekat bgt sama Sang Pencipta pas di moment tsb.
3. Ane ngerasa terkadang kehidupan tidak menerima kita dengan tangan terbuka, tp ane ngerasa alam selalu menerima kita dgn tangan terbuka. Ane ngerasa damai gan
4. Fisik kita jadi lebih kuat gan dan kita belajar bagaimana alam memaksa kita untuk mengerti, bahwasanya alam diciptakan bukan tanpa tujuan, melainkan memberikan pelajaran kepada kita untuk tetap bersyukur
5. Sepanjang ane daki gunung, bertemu dengan para pendaki lain ibarat bertemu sodara, benar benar penuh solidaritas dan rasa kekerabatan yang erat
Nah, berikut sabda dari agan ipanaipan.
Mendaki Gunung Itu Bukan Hobi atau Pun Kegiatan Yang Sia-sia Gan,...
Tapi Itu kutukan ,...
Kalo Ga Percaya Cobain Aja,...
tapi Saya Ga Tanggung Jawab Kalo Situ Di Kutuk Untuk Menjadi Pendaki Ya,...
* * *

Beberapa alasan seseorang melakukan sebuah pendakian yang saya sampaikan diatas tentu belum mampu memenuhi kriteria Tengku Bintang agar sebuah hobby dapat dikatakan tidak sia-sia. Dari lima alasan yang saya sampaikan, tidak satupun yang "dapat digunakan secara signifikan sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan" seperti yang diharapkan Tengku Bintang. Jika kriteria tersebut yang dijadikan patokan kenapa sebuah hobby dapat dikatakan tidak sia-sia, tentu akan sangat jarang hobby yang dapat dikatakan tidak sia-sia. Silahkan sebut sembarang hobby, bersepeda, memancing, bermain sepak bola, lalu tanyakan dampaknya bagi ilmu pengetahuan.

Bagi saya, rasanya tugas "dapat digunakan secara signifikan sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan" terlalu besar untuk disematkan sebagai alasan untuk menjalankan sebuah hobby. Biarlah manfaat-manfaat kecil—meskipun tidak bertahan lama—untuk diri sendiri dulu yang menjadi alasan saya menjalankan sebuah hobby. Kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuannya saya berikan di tempat lain saja.


Catatan:

"gradag-grudug" merupakan terminologi dalam bahasa Bali yang dapat berarti bersenang-senang bersama gerombolan teman.